BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mendorong upaya modernisasi infrastruktur perkotaan melalui implementasi sistem kabel bawah tanah (underground ducting system). Program ambisius ke arah pembangunan infrastruktur yang mengutamakan keselamatan, estetika, dan efisiensi jangka panjang ini rencananya akan dilakukan secara bertahap.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengungkapkan bahwa peralihan dari sistem kabel udara konvensional menuju ducting bawah tanah merupakan investasi strategis untuk masa depan kota. Pendekatan bertahap dipilih untuk memastikan implementasi yang optimal tanpa mengganggu aktivitas masyarakat dan kontinuitas layanan kelistrikan.
“Tidak semua kawasan bisa langsung diterapkan kabel bawah tanah. Kami fokuskan dulu di pinggir jalan yang relatif aman dari banjir dan tidak terlalu padat,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).
Menurutnya, sistem ducting membutuhkan perencanaan matang, terutama terkait pembiayaan dan kesiapan infrastruktur. Selain itu, koordinasi dengan PLN menjadi faktor penting agar penataan kabel tidak mengganggu layanan kelistrikan yang sudah berjalan.
Sejauh ini, sebut Neni, ada tiga kelurahan yang dinilai paling memungkinkan menjadi percontohan penerapan kabel bawah tanah. Yakni Kelurahan Loktuan, Berbas Tengah, dan Berbas Pantai yang memiliki karakteristik lingkungan dan infrastruktur yang mendukung.
Implementasi sistem ducting underground memerlukan koordinasi intensif dengan berbagai stakeholder, terutama PT PLN sebagai operator utama sistem kelistrikan. Sehingga saat dilakukan transisi atau penataan kabel dimulai tidak mengganggu layanan kelistrikan yang sudah berjalan.
Program ini diperkuat dengan kebijakan Presiden RI Prabowo Subianto yang mendorong penataan kabel udara dan reklame di kawasan perkotaan demi menciptakan wajah kota yang lebih rapi dan nyaman bagi masyarakat.
“Penerapan kabel bawah tanah tidak hanya memperbaiki tata kota, tetapi juga meminimalkan risiko keselamatan akibat kabel udara serta memberikan dampak positif jangka panjang bagi pembangunan perkotaan di Bontang,” tuturnya.
Belum lama ini, Prabowo Subianto secara khusus menyoroti maraknya spanduk, baliho iklan, serta kabel listrik yang semrawut di Kota Balikpapan dan Banjarmasin. Kondisi tersebut dinilai merusak keindahan kota dan menghilangkan ciri khas daerah.
“Dalam rangka Indonesia Asri, saya minta kepada pemerintah daerah agar menertibkan iklan, spanduk, dan baliho. Terlalu banyak,” kata Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, awal pekan ini.
“Kalau saya ke Balikpapan dan ke Banjarmasin, tampilannya hampir tidak ada bedanya. Spanduk, spanduk, spanduk,” sindirnya. (*)
Penulis: Mirah Hayati









