Jurnalpijar.com – Pengetahuan menghadapi kondisi kegawatdaruratan mulai dikenalkan kepada pelajar di wilayah kerja Puskesmas Bontang Utara II. Melalui Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD), para peserta dibekali pengetahuan hingga praktik memberikan pertolongan awal dalam situasi darurat.
Pelatihan yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang melalui Puskesmas Bontang Utara II tersebut berlangsung di lantai dua Gedung Puskesmas Bontang Utara II, Kamis (15/10/2026).
Pesertanya berasal dari sejumlah sekolah, yakni SMP Nurul Iman, MTs Al Amin, SMP Imanuel, dan SMP Negeri 9 Bontang. Kader remaja dari Kelurahan Loktuan dan Guntung juga turut dilibatkan.
Kepala Puskesmas Bontang Utara II, dr Dwiyanti, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan Hari Keselamatan Pasien Sedunia yang diperingati setiap 17 September. Hanya saja, padatnya pelayanan kesehatan kepada masyarakat membuat pelatihan baru dapat dilaksanakan pada Oktober.
Dwiyanti menjelaskan, sasaran pelatihan BHD dari tahun ke tahun terus diperluas. Jika sebelumnya pembekalan lebih banyak diberikan kepada tenaga kesehatan, kemudian menyasar kader posyandu, tahun ini pihaknya memilih melibatkan kalangan pelajar.
“Sebelumnya sasarannya tenaga kesehatan kami. Mungkin karena sudah bertahun-tahun, mereka sudah percaya diri. Akhirnya kami cari sasaran lain yakni kader posyandu, dan tahun ini menyasar anak sekolah,” ungkapnya.
Menurutnya, keterampilan memberikan pertolongan dasar penting dikenalkan sejak usia sekolah. Sebab, kondisi kegawatdaruratan tidak hanya dapat terjadi di fasilitas kesehatan, tetapi juga bisa ditemui sewaktu-waktu di sekolah maupun tempat umum.
Karena itu, pemahaman mengenai BHD diharapkan menjadi salah satu basic skill atau keterampilan dasar bagi para pelajar. Dengan bekal tersebut, mereka diharapkan tidak panik dan lebih percaya diri ketika menemui seseorang yang membutuhkan pertolongan darurat.
Dalam pelatihan ini, Puskesmas Bontang Utara II menghadirkan narasumber bersertifikasi dari PT Indominco Mandiri. Para peserta tidak hanya menerima materi mengenai penanganan kegawatdaruratan, tetapi juga mengikuti praktik langsung.
Salah satu keterampilan yang dipraktikkan ialah pemberian pertolongan melalui kompresi dada atau pijat jantung pada seseorang yang mengalami henti napas. Pembekalan tersebut diharapkan membuat peserta memahami langkah awal yang tepat ketika menemukan kondisi kegawatdaruratan sebelum pertolongan medis lebih lanjut diberikan. (Adv)
Penulis: Bambang
Editor: Michael









