BONTANG – Di era ketika informasi serba cepat dan aktivitas belajar banyak bergeser ke platform digital, SMP Negeri 1 (SPANSA) Bontang memilih langkah berbeda, mereka tetap menghidupkan budaya Majalah Dinding (Mading) sebagai ruang kreatif bagi siswa.
Kepala SMPN 1 Bontang, Riyanto, mengatakan bahwa Mading masih memiliki peran penting dalam membangun karakter literasi peserta didik. Menurutnya, meski teknologi menawarkan kemudahan dan akses informasi luas, aktivitas mengembangkan Mading memberikan pengalaman belajar yang lebih menyeluruh.
“Mading itu melatih proses. Anak-anak tidak hanya membaca, tetapi juga belajar memproduksi karya menulis, menggambar, riset, hingga kerja sama tim,” ungkapnya.
Riyanto menuturkan, meski sekolah telah aktif menggunakan sarana digital seperti aplikasi pembelajaran dan grup belajar online, ketertarikan siswa pada Mading tidak berkurang. Setiap bulan, berbagai karya siswa menghiasi papan Mading, mulai artikel soal kebudayaan, isu lingkungan, hingga cerpen dan puis
Antusiasme siswa juga tampak dalam perayaan HUT SPANSA Bontang beberapa waktu lalu. Lomba rangkai Mading menjadi salah satu kegiatan yang paling banyak diminati, dengan setiap kelas mengirimkan perwakilan untuk menampilkan kemampuan mereka dalam desain visual maupun penulisa
“Setiap kelas mengirimkan peserta, dan hasil karya mereka kami tampilkan saat acara HUT SPANSA. Kreativitas yang muncul luar biasa,” tambahnya.
Ia menegaskan, pihak sekolah berkomitmen mempertahankan budaya Mading sebagai bagian dari keseimbangan antara literasi digital dan literasi konvensional. Menurutnya, keduanya tidak harus saling menggantikan, tetapi bisa berjalan berdampingan.









