Menu

Mode Gelap

Daerah

Kasus DBD di Bontang Utara I Turun 52 Persen, Puskesmas Intensifkan Penyelidikan Epidemiologi

badge-check


					Promkes Puskesmas Bontang Utara I (PKM BU I), Lisa Fitria Ningrum. (Foto: Mirah) Perbesar

Promkes Puskesmas Bontang Utara I (PKM BU I), Lisa Fitria Ningrum. (Foto: Mirah)

BONTANG – Upaya pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang di wilayah kerja Puskesmas Bontang Utara I menunjukkan hasil signifikan. Sepanjang 2025, kasus DBD berhasil ditekan hingga 52 persen, dibanding periode tahun sebelumnya. Penurunan ini disebut sebagai bukti bahwa strategi pencegahan dan respons cepat di lapangan berjalan efektif.

Promotor Kesehatan Puskesmas Bontang Utara I, Lisa Fitria Ningrum, menjelaskan bahwa tren penurunan tidak hanya terlihat secara tahunan, tetapi juga secara bulanan.

“Kalau dilihat dari tahun ke tahun, kasusnya memang turun sejak 2022 hingga 2025. Bulan ini pun lebih rendah dari bulan sebelumnya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (20/11/2025).

Meski ada penurunan signifikan, Lisa mengakui tantangan tetap muncul saat memasuki musim hujan. Dalam periode tersebut, kasus kembali meningkat hingga 24 pasien, mengikuti pola yang sama selama lima tahun terakhir. “Setiap musim hujan, kasus memang naik. Ini pola yang konsisten dan harus terus diantisipasi,” jelasnya.

Penyelidikan Epidemiologi (PE) Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah kegiatan yang dilakukan untuk:
Mengetahui potensi penularan dan penyebaran DBD.

Sebagai langkah respons cepat, setiap kali ada laporan pasien DBD dari rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya, tim langsung melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) dalam waktu 1×24 jam. Tim akan mendatangi rumah pasien, memetakan lokasi menggunakan spatial mapping, dan melihat apakah kasus tersebut sudah memiliki potensi penyebaran.

“Jika dalam radius kurang dari 100 meter ditemukan lebih dari satu kasus, artinya sudah ada penyebaran. Itu yang kami sebut KLB lokal,” ungkapnya.

Pada kondisi tersebut, intervensi lapangan akan ditingkatkan melalui koordinasi ketat dengan pihak kelurahan dan RT.

Namun apabila baru satu kasus ditemukan, puskesmas lebih fokus pada upaya PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dengan imbauan langsung ke RT melalui kelompok khusus binaan puskesmas.

“Kalau belum ada penyebaran, kami kuatkan PSN. RT punya peran besar untuk menggerakkan warga,” lanjutnya.

Ia menegaskan hingga saat ini tidak ada kasus kematian akibat DBD di wilayah kerja Puskesmas Bontang Utara I. Hal ini menjadi indikator penting bahwa sistem deteksi dini dan penanganan kasus berjalan baik.

“Keberhasilan ini bukan hanya dari intervensi medis. Masyarakat juga sangat berperan. Begitu ada laporan, tim turun, tapi kebersihan lingkungan tetap kunci utama,” tutupnya. (*/ADV)

 

Penulis: Mirah Hayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kolaborasi Dinkes, KMI, dan UGM Dorong Pemeriksaan HPV DNA untuk Tekan Kasus Kanker Serviks di Bontang

29 November 2025 - 09:38

Hujan Lebat Guyur Samarinda, 25 Titik Jalan dan Pemukiman Terendam Banjir

29 November 2025 - 07:57

Kepesertaan Aktif BPJS Kesehatan Bontang Capai 93 Persen

28 November 2025 - 12:13

Trending di Daerah