Menu

Mode Gelap

Daerah

Puskesmas BU 1 Terapkan SIGAP DBD, Sistem Pemetaan Digital untuk Pantau Penyebaran Demam Berdarah

badge-check


					Kepala Puskesmas Bontang Utara 1, dr. I Wayan Santika. (Foto: Rezwan) Perbesar

Kepala Puskesmas Bontang Utara 1, dr. I Wayan Santika. (Foto: Rezwan)

BONTANG – Dinas Kesehatan Kota Bontang melalui Puskesmas Bontang Utara 1 (BU 1) mengimplementasikan sistem pemantauan dan penanganan penyebaran kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) menggunakan teknologi pemetaan digital berbasis geospasial. Sistem yang diberi nama SIGAP DBD (Sistem Integrasi Geospasial dan Analisa Penyakit DBD) ini memungkinkan pemantauan penyebaran kasus menjadi lebih cepat dan akurat.

Kepala Puskesmas BU 1, Dr. I Wayan Santika, menyampaikan bahwa SIGAP DBD bertujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam mencegah penularan kasus Demam Berdarah di lingkungan sekitar mereka.

“Sekarang, dengan pemantauan digital, kasus bisa ditangani lebih awal sehingga tidak sampai parah. Kemudian masyarakat juga bisa ikut waspada untuk mencegah penularan di lingkungannya,” ungkapnya saat ditemui media pada Jumat (5/12/2025).

Pemetaan persebaran kasus DBD di wilayah kerja PKM BU1 per November 2025.

Dr. Wayan menjelaskan bahwa SIGAP DBD merupakan langkah tepat dalam mendeteksi kasus Demam Berdarah Dengue dan Demam Dengue, serta informasi kewaspadaannya dapat dilaporkan secara berkala kepada masyarakat agar kemungkinan penyebaran tidak meluas.

“Kami harap tidak ada angka kematian faktor DBD di wilayah kita. Jadi, deteksi dini kita perkuat, apabila terdeteksi ada pasien bergejala DBD kita langsung periksa. Sehingga, kemungkinan kecil tidak ada keterlambatan dalam penanganan,” harapnya.

Rino Choirul Fadli, S.KM, Epidemiolog Kesehatan Ahli Pertama Puskesmas BU 1, menjelaskan perbedaan antara dua jenis penyakit Dengue yang perlu dipahami masyarakat.

“Ini yang perlu kita ketahui Demam Berdarah Dengue (DBD) ialah demam dengue yang parah, ditandai dengan kebocoran plasma, penurunan trombosit di bawah 100.000/mm³, dan potensi perdarahan seperti mimisan, gusi berdarah, atau perdarahan pada organ tubuh lainnya. Nah, kalau dia tidak ada tanda perdarahan dan trombositnya masih bagus, dikategorikan Demam Dengue (DD),” terangnya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Jurnal Pijar (@jurnalpijar)

Implementasi SIGAP DBD menunjukkan inovasi Puskesmas BU 1 dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efektivitas surveillance penyakit. Sistem pemetaan digital ini memungkinkan petugas kesehatan untuk melakukan analisis spasial penyebaran kasus, mengidentifikasi cluster atau area dengan risiko tinggi, dan melakukan intervensi yang lebih tepat sasaran.

Dengan sistem ini, diharapkan dapat mempercepat respons penanganan kasus DBD, meningkatkan koordinasi antarpetugas kesehatan, dan memberikan informasi yang lebih akurat kepada masyarakat tentang situasi penyebaran DBD di wilayah mereka. (*/ADV)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Heri Keswanto Dilantik Jadi Ketua BPC Kompak Bontang, Ajak Warga Asal Pangkep dalam Pembangunan

20 Desember 2025 - 05:35

Pemkot Bontang Teken 3 Kerja Sama Strategis Terkait Pertanahan, Balai Permasyarakatan dan BPJS Kesehatan

17 Desember 2025 - 02:49

Jelang Natal, Harga Komoditas Pasar Alami Kenaikan di Bontang

16 Desember 2025 - 10:38

Trending di Daerah