BONTANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang resmi meluncurkan Pelatihan Digital 25 Keterampilan Kader Posyandu dalam rangkaian Gerakan Posyandu Aktif dan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61, di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, Kamis (13/11/2025).
Program ini menjadi langkah strategis untuk mewujudkan transformasi digital layanan kesehatan masyarakat di tingkat dasar.

Kepala Dinkes Bontang, Bakhtiar Mabe, menjelaskan pelatihan ini merupakan kerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Asian Development Bank (ADB) melalui program Supporting Essential Health Actions and Transformation (SEHAT 2025). Kota Bontang bersama Balikpapan ditetapkan sebagai lokus pertama pelaksanaan pelatihan digital tersebut.
“Selama ini belum ada kader Posyandu Bontang yang mengikuti pelatihan digital melalui LMS Kementerian Kesehatan. Karena itu, tahun ini menjadi tonggak baru untuk mencetak kader-kader yang cakap teknologi,” terang dia.

Sebanyak 60 kader dan 15 pendamping mengikuti pelatihan yang berlangsung hingga 16 November 2025. Para kader akan menyelesaikan pembelajaran secara mandiri melalui platform LMS dan menjalani praktik lapangan sebelum dilakukan penilaian kecakapan oleh tim Puskesmas.
Menurut Bakhtiar, digitalisasi pelatihan kader sangat penting untuk memperkuat kemampuan kader dalam pencatatan data, deteksi dini stunting, serta monitoring imunisasi dan kesehatan ibu-anak.
“Kami ingin kader kita tidak hanya aktif, tapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi,” jelasnya.
Ia menambahkan, Dinkes Bontang juga telah menyiapkan Workshop 25 Keterampilan Kader secara offline pada Desember mendatang yang akan diikuti 360 peserta. Kegiatan ini terbagi dalam empat angkatan dan 12 kelas pelatihan, dengan rekomendasi dari Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur.

Kepala Dinas Kesehatan Bontang, Bakhtiar Mabe. (Foto: Mirah)
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, turut memberikan dukungan terhadap langkah tersebut. Menurutnya, digitalisasi pelatihan kader merupakan bentuk modernisasi layanan kesehatan masyarakat.
“Dengan pelatihan digital, kader akan lebih cepat dan tepat dalam memberikan layanan di lapangan,” ujarnya.
Neni menilai langkah Dinkes Bontang sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam memperkuat Posyandu 6 bidang. Ia menegaskan bahwa Posyandu memiliki peran penting sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan primer di tingkat masyarakat.
“Digitalisasi adalah masa depan pelayanan kesehatan. Saya bangga Bontang menjadi bagian dari perubahan ini,” sebut Neni.
Bakhtiar menutup dengan menyampaikan bahwa transformasi digital Posyandu akan terus diperluas hingga seluruh wilayah Bontang.
“Kami ingin memastikan setiap kader memiliki kompetensi digital agar pelayanan kesehatan lebih cepat, akurat, dan menjangkau semua warga,” pungkasnya. (*/ADV)
Penulis: Mirah Hayati









