BONTANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang menegaskan bahwa pernikahan dini menjadi salah satu penyumbang utama terjadinya stunting pada anak. Hal ini dipicu oleh belum matangnya organ reproduksi ibu, minimnya pengetahuan gizi dan pola asuh, serta kondisi ekonomi pasangan usia muda yang umumnya belum stabil.
Kepala Dinkes Kota Bontang, Bakhtiar Mabe, menyebut angka pernikahan dini di Bontang masih tergolong tinggi, termasuk pernikahan yang terjadi akibat kehamilan di luar nikah. Kondisi ini, menurutnya, memiliki hubungan sebab-akibat yang kuat dengan tingginya risiko stunting.
“Kalau pernikahan dini di Bontang ini memang masih cukup tinggi. Kita kaitkan dengan dampaknya, termasuk stunting, hubungan sebab-akibatnya memang sangat jelas,” ujarnya saat dikonfirmasi di parkiran RSUD Taman Husada Bontang, Selasa (25/11/2025).
View this post on Instagram
Ia menjelaskan, ibu yang menikah dan hamil di usia terlalu muda pada umumnya belum siap secara fisik maupun mental. Kondisi tersebut berdampak besar pada kualitas kehamilan dan tumbuh kembang anak.
“Secara kesehatan, ibu seusia remaja itu sebenarnya belum siap. Bukan hanya untuk merawat anak, tetapi untuk menjaga kesehatannya sendiri juga masih memiliki keterbatasan,” jelasnya.
Ia menambahkan, dari sisi medis, kehamilan pada usia dini sangat berisiko. Organ reproduksi ibu belum kuat sehingga rentan terhadap komplikasi kehamilan, keguguran, hingga melahirkan bayi prematur atau dengan berat badan lahir rendah, yang merupakan faktor risiko stunting.
“Risiko keguguran, bayi lahir prematur, atau berat badan lahir rendah itu jauh lebih besar jika ibu hamil di usia terlalu muda,” katanya.

Persentase stunting per kelurahan di Kota Bontang. (Data Per Mei 2025)
Selain faktor fisik, minimnya pengetahuan tentang gizi seimbang dan pola asuh yang tepat juga menjadi persoalan. Banyak pasangan muda belum memahami pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dini, yang berujung pada kekurangan gizi kronis.
Untuk menekan angka pernikahan dini, Dinkes Bontang terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat, khususnya remaja. Salah satu fokusnya adalah mengajak remaja menghindari pergaulan bebas dan mengisi waktu dengan aktivitas positif.
“Kami mengimbau remaja agar aktif dalam kegiatan yang positif, seperti olahraga dan aktivitas kreatif lainnya, supaya tidak terjerumus ke hal-hal yang berisiko,” tegasnya.
Pun dirinya bilang, upaya pencegahan pernikahan dini sejalan dengan rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan para pakar kesehatan yang menyarankan usia pernikahan ideal minimal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki, guna memastikan kesiapan fisik, mental, dan ekonomi serta menekan risiko stunting pada anak. (*/ADV)









