BONTANG – Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang dilaksanakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang sejak Agustus 2025 akan segera berakhir pada Desember tahun ini. Meski demikian, program tersebut dinilai efektif dalam membantu menurunkan angka stunting di Kota Bontang.
Kepala Dinkes Kota Bontang, Bakhtiar Mabe, menjelaskan PMT diberikan kepada dua kelompok sasaran, yakni balita dan ibu hamil yang teridentifikasi mengalami masalah gizi. Namun, durasi pemberian disesuaikan dengan kelompok penerima.
“PMT untuk balita sudah berakhir karena memang hanya diberikan selama 56 hari. Sementara untuk ibu hamil durasinya lebih lama, sampai 120 hari, dan masih berjalan hingga Desember,” ujarnya kepada media ini di RSUD Taman Husada Bontang, Selasa (25/11/2025).

Launching Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Lokal bagi Balita dan Ibu Hamil Bermasalah Gizi yang digelar pada Agustus 2025 lalu.
Pada tahap awal pelaksanaannya, program PMT menyasar 1.219 balita dan 65 ibu hamil di seluruh kecamatan di Kota Bontang. Makanan tambahan yang diberikan mengutamakan bahan pangan lokal dan dirancang dengan pendampingan tenaga ahli agar sesuai dengan kebutuhan gizi penerima.
Ia menilai PMT cukup efektif, terutama karena disertai dengan monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara rutin. Ia menekankan bahwa keberhasilan PMT tidak hanya bergantung pada pembagian makanan, tetapi juga pada pengawasan konsumsi oleh penerima manfaat.
“Kalau dikatakan efektif, ya efektif, sepanjang monitoring dan evaluasinya benar-benar dilakukan. Harus dipastikan makanannya dikonsumsi dengan baik, tidak hanya dibagikan begitu saja,” katanya.
Pemantauan di lapangan dilakukan oleh kader kesehatan yang secara langsung memonitor konsumsi makanan tambahan sekaligus mencatat dan melaporkannya kepada tim terkait. Laporan tersebut kemudian diterima dan dievaluasi oleh Dinkes Bontang.
“Laporan dari lapangan sejauh ini bagus. Kader tidak hanya membagikan, tapi juga memonitor langsung dan melaporkannya,” jelas dia.
View this post on Instagram
Ia menyebut keberhasilan PMT turut berkontribusi terhadap penurunan angka stunting di Kota Bontang yang tercatat turun sekitar 1,1 persen. Menurutnya, capaian tersebut menjadi indikator bahwa intervensi gizi melalui PMT memberikan dampak positif.
“Penurunan stunting itu salah satunya juga dari keberhasilan PMT. Jadi program ini ada hasilnya,” tegasnya.
Terkait keberlanjutan program, Bakhtiar mengatakan pemberian makanan tambahan pada prinsipnya masih dibutuhkan. Namun ke depan, kebijakan tersebut akan disesuaikan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang cakupannya lebih luas.
“PMT itu sebenarnya perlu, tapi sekarang ada MBG yang menyasar lebih luas. Jadi kita sesuaikan dengan program yang lebih besar, termasuk pertimbangan anggaran,” pungkasnya. (Ra)









