Jurnalpijar, Bontang – Kasus HIV di Kota Bontang masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Berdasarkan data akumulasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang sejak tahun 2016, total kasus HIV yang pernah terdeteksi mencapai 582 orang. Tren tahunan menunjukkan fluktuasi kasus, dengan 100 kasus baru pada 2023, 67 kasus pada 2024, dan 42 kasus baru sepanjang 2025 hingga Desember.
Dari total kasus kumulatif tersebut, 397 orang saat ini masih menjalani pengobatan. Sementara itu, mayoritas kasus baru yang muncul sepanjang 2025 didominasi kelompok usia produktif 25–49 tahun, yang dinilai memiliki mobilitas sosial dan risiko paparan lebih tinggi.
Kepala Dinas Kesehatan Bontang, Bakhtiar Mabe, menyebut bahwa meski angka kasus HIV masih tergolong tinggi, pemerintah terus menggencarkan edukasi bagi kelompok berisiko. Hal ini diharapkan dapat menekan penambahan kasus setiap tahunnya.

Talkshow Edukasi ke-Pelajar Sekolah Pada Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kota Bontang, Senin (1/12/2025) lalu.
“Memang angkanya masih lumayan, tetapi kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat yang berpotensi terjangkit HIV/AIDS. Harapannya setiap tahun bisa kita turunkan sedikit demi sedikit,” jelasnya awal pekan ini..
Ia menegaskan bahwa edukasi bukan hanya bertujuan mencegah penularan, tetapi juga memberikan pemahaman agar masyarakat tidak kembali masuk ke perilaku berisiko. Dinkes juga menyiapkan berbagai pelatihan untuk meningkatkan literasi kesehatan dan pemahaman kelompok sasaran tentang bahaya HIV.
“Kita harus memberikan perhatian kepada mereka. Pelatihan-pelatihan akan kami berikan supaya mereka memahami dan tidak lagi terjerumus dalam hal-hal yang tidak kita harapkan,” katanya.
View this post on Instagram
Bakhtiar menjelaskan bahwa risiko HIV banyak ditemukan pada kelompok dengan perilaku seksual berisiko, termasuk hubungan sesama laki-laki, pergaulan bebas, serta ibu hamil yang belum menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap. Kelompok ibu hamil menjadi perhatian khusus, karena penularan HIV dari ibu ke bayi dapat berdampak buruk pada tumbuh kembang anak.
“Tempat-tempat rawan terjadi HIV itu seperti pada ibu hamil dan kelompok laki-laki yang suka dengan laki-laki. Itu yang harus kita berikan literasi dan penyuluhan supaya mereka bisa terhindar. Ibu hamil harus betul-betul kita kawal karena ini juga bisa menjadi penyumbang stunting ke depannya,” tegasnya.
Dinkes Bontang memastikan upaya edukasi dan deteksi dini akan terus diperkuat melalui jejaring fasilitas kesehatan serta penyuluhan langsung ke masyarakat. Pemerintah berharap peningkatan pengetahuan masyarakat dapat menjadi kunci pengendalian HIV di kota industri tersebut. (*/ADV)









