Jakarta, CNN Indonesia —
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mewaspadai kemungkinan dampak kekeringan akibat musim kemarau yang bisa berlangsung hingga Oktober. Lihatlah daftar tempat yang mungkin memilikinya.
Kepala BMKG Dvikorita Karnavati mengatakan banyak daerah akan mengalami sedikit hujan mulai Agustus 2024 dan seterusnya. Daerah yang curah hujannya sangat sedikit adalah Lampung, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Kemudian pada September 2024 curah hujan terendah masih mungkin terjadi di Jawa, Bali, NTB, dan NTT.
“Pada Oktober 2024, kondisi serupa terjadi di sebagian Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Bulan Juni hingga Oktober. Ini perlu diperbaiki, perlu mitigasi khusus akibat dampak kekeringan tersebut,” kata Dwikorita. penyataan. Dalam laman resmi BMKG, Rabu (29/5).
Dvikorita juga menjelaskan, saat ini beberapa titik panas pertama kali muncul di kawasan yang sering terbakar baik di hutan maupun di darat. Oleh karena itu, menurutnya, harusnya banyak kalangan yang mewaspadai risiko menengah dan tinggi yang akan terjadi di kawasan tersebut.
Oleh karena itu, Dvikorita menyarankan pemerintah setempat untuk mengisi waduk di daerah rawan kekeringan pada musim kemarau.
Akibatnya terjadi pencairan air tanah dan naiknya permukaan air di kawasan yang sering terbakar hutan dan lahan atau kawasan hutan, jelasnya.
Dwikorita mengatakan kita harus selalu memastikan konektivitas jaringan irigasi mulai dari bendungan hingga wilayah terdampak kekeringan memang mencukupi agar upaya perubahan iklim efektif dan efisien dalam mengurangi potensi bencana kekeringan.
“Daerah yang masih menerima hujan atau pergantian musim hujan ke musim kemarau perlu segera meningkatkan upaya pemanenan air hujan dalam skala besar dengan menggunakan tampungan air, kolam, embung, sumur resapan,” dan sebagainya. “Upaya harus dikurangi untuk mengurangi dampak kejadian hidrometeorologi ekstrem,” katanya.
Sebelumnya, Dwikorita menyurati Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memperingatkan kemungkinan kekeringan berkepanjangan di banyak wilayah Indonesia.
Dalam surat tersebut, Dwikorita menyebutkan beberapa wilayah di Indonesia saat ini menghadapi kondisi kering, terutama di wilayah selatan garis khatulistiwa.
Hal ini berdasarkan hari tanpa hujan (HTH) yang menunjukkan sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara mengalami HTH selama 21-30 hari atau lebih.
Analisis curah hujan dan analisis pola hujan selama 3 musim terakhir menunjukkan mulai terjadi kondisi kemarau di wilayah Indonesia, khususnya di wilayah selatan garis khatulistiwa, kata Dwikorita melalui surat, Senin (27/5).
Sekitar 19 persen wilayah musiman (ZOM) sedang memasuki musim kemarau, katanya, dan diperkirakan sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara akan segera memasuki musim kemarau pada tiga musim mendatang.
“Prakiraan curah hujan Indonesia dan perkiraan curah hujan berarti kondisi kekeringan musim kemarau akan terjadi di Indonesia hingga akhir September,” jelas Dwikorita.
Oleh karena itu, menurutnya, untuk mengurangi dampak kekeringan, perhatian khusus perlu diberikan pada wilayah yang curah hujan bulanannya paling rendah, yaitu kategori kurang dari 50 mm.
(tim/dmi)












