Jurnalpijar, Bontang – Upaya eliminasi Tuberkulosis (TB) pada 2030 terus diperkuat Puskesmas Bontang Utara 2 melalui inovasi Skribo, sebuah metode skrining TB berbasis masyarakat yang aktif melibatkan kader kesehatan di wilayah kerja. Program ini dinilai sangat efektif setelah berhasil menemukan 617 suspek TB sepanjang 2025, jumlah yang jauh lebih tinggi dibandingkan penemuan pasif di fasilitas kesehatan.
Kepala Tata Usaha Puskesmas Bontang Utara 2, Yulisda, mengatakan bahwa Skribo menjadi strategi penting agar deteksi TB tidak hanya bergantung pada kedatangan pasien.
“Tujuannya merangkul masyarakat dan kader untuk mencari suspek TB di wilayah. Dengan pendekatan ini, capaian kami meningkat,” ujarnya, Kamis (11/12/2025).

Dari ratusan temuan tersebut, tercatat 45 pasien positif TB yang kini menjalani pengobatan sesuai standar. Yulisda menilai angka ini sebagai bukti nyata bahwa pendekatan aktif jauh lebih efektif dalam menemukan kasus, terutama pada wilayah dengan mobilitas dan kepadatan penduduk yang tinggi.
Skribo juga diperkuat melalui jaringan tenaga kesehatan yang lebih luas, termasuk dokter Suko, dokter dari RS PKT, klinik Duafa, dan dokter Teta. Keempat fasilitas jejaring ini dapat mengirimkan sampel dahak langsung ke Puskesmas ketika menemukan tanda-tanda TB pada pasien mereka.
“Jejaring boleh mengirimkan sampel kapan saja, dan kami akan membalas hasil pemeriksaannya. Ini mempercepat proses dan memudahkan masyarakat,” jelasnya.
Sistem kolaboratif ini membuat proses deteksi dini berjalan tanpa hambatan administratif.
View this post on Instagram
Puskesmas menilai keterlibatan jejaring merupakan kunci untuk mempercepat eliminasi TB, sebab masyarakat lebih mudah terdeteksi melalui interaksi rutin dengan fasilitas kesehatan terdekat. Hal ini juga memperkuat rujukan balik dan tindak lanjut pengobatan pasien.
Tidak hanya skrining, program Skribo juga mengedepankan edukasi mengenai gejala TB, cara penularan, dan pentingnya pengobatan tuntas.
“Edukasi dilakukan melalui kunjungan kader maupun penyuluhan kelompok di lingkungan warga,” ucapnya.
Dengan berbagai upaya tersebut, Puskesmas Bontang Utara 2 optimistis bahwa target eliminasi TB pada 2030 dapat tercapai. Yulisda menegaskan bahwa inovasi berbasis komunitas akan terus dipertahankan karena terbukti mampu meningkatkan capaian kinerja secara signifikan. (*/ADV)









