SANGATTA – Program bus listrik sekolah di Kabupaten Kutai Timur resmi diluncurkan pada Senin (4/5/2026), usai upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional di halaman Kantor Bupati Kutim. Inisiatif strategis ini merupakan program pemerintah daerah dalam meningkatkan aksesibilitas pendidikan dan mobilitas siswa menuju sekolah, sekaligus mendukung transisi energi terbarukan di sektor transportasi publik.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, mengungkapkan bahwa pengadaan bus listrik sekolah merupakan bagian integral dari 50 program prioritas pemerintah daerah yang telah dirancang sejak tahun 2024. Realisasi program ini pada tahun 2026 menunjukkan komitmen serius pemerintah dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
“Salah satu dari 50 program Bupati Kutai Timur periode saat ini adalah pengadaan bus listrik sekolah. Ini sudah dirancang mulai tahun 2024. Alhamdulillah di tahun 2026 ini bisa diwujudkan,” ujar Mulyono.
Perencanaan matang selama dua tahun menunjukkan bahwa program ini bukan sekadar inisiatif spontan, tetapi hasil dari kajian mendalam terhadap kebutuhan pendidikan dan mobilitas siswa di Kutai Timur. Waktu implementasi yang cukup lama memungkinkan pemerintah untuk melakukan persiapan teknis dan operasional yang komprehensif.
Program bus listrik sekolah merupakan hasil kolaborasi strategis antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) dan Dinas Perhubungan Kabupaten Kutim.
“Pengadaan bus listrik sekolah ini adalah kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan juga Dinas Perhubungan. Karena secara penerima manfaat ini adalah anak sekolah sementara secara teknis pelaksanaan ada di Dinas Perhubungan,” jelas Mulyono.
Disdikbud berperan sebagai pihak yang mengidentifikasi kebutuhan dan penerima manfaat, sementara Dinas Perhubungan menangani aspek teknis operasional, termasuk pemeliharaan kendaraan, manajemen rute, dan pengelolaan pengemudi.
Untuk tahap awal, bus listrik akan diujicobakan dan efektif berfungsi pada Rabu (6/5/2026). Uji coba ini difokuskan pada satu unit bus yang melayani siswa di SMA Negeri 2 Sangatta Utara. Pemilihan sekolah ini sebagai lokasi pilot project didasarkan pada analisis kebutuhan yang menunjukkan bahwa sekolah tersebut belum terjangkau oleh jalur angkutan umum yang ada.
“Ini setelah melalui diskusi dengan pihak sekolah yang ada di Kabupaten Timur dan saat ini karena masih untuk uji coba 1 bus, maka ini kita peruntukkan untuk SMA Negeri 2 Sangatta Utara. Dengan pertimbangan SMA Negeri Sangatta Utara tidak dilalui jalur angkutan umum,” tambah Mulyono.
Pemilihan SMA Negeri 2 Sangatta Utara karena terletak di daerah terpencil dan belum terjangkau angkutan umum menjadi prioritas utama untuk memastikan program memberikan dampak maksimal bagi siswa yang paling membutuhkan. (*)









