Jurnalpijar.com – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMK Negeri 2 Bontang tahun ini tidak hanya berisi pengenalan lingkungan belajar, tetapi juga dibekali edukasi mengenai kesehatan mental remaja. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (16/7/2026) itu merupakan hasil kolaborasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang bersama PT Kaltim Parna Industri (KPI).
Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan pembentukan generasi unggul tidak cukup hanya mengandalkan kesehatan fisik. Menurutnya, kesehatan mental memiliki peran yang sama penting dalam mendukung tumbuh kembang remaja agar mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Ia menjelaskan, remaja yang memiliki kondisi mental yang baik cenderung lebih siap menjalani proses belajar, mampu mengelola tekanan, serta berkembang menjadi pribadi yang produktif. Karena itu, penguatan pemahaman mengenai kesehatan mental dinilai perlu diberikan sejak masa transisi menuju usia dewasa.
“Generasi yang sehat secara mental akan lebih siap menjadi SDM yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Sementara itu, Supervisor CSR & External Relation PT Kaltim Parna Industri, Susana Afriati, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program GAS (Gerakan Masyarakat Anak Sekolah) KolaKPIsang yang dijalankan perusahaan.
Menurutnya, selain mendukung upaya pencegahan stunting, perusahaan juga memberi perhatian terhadap kesehatan psikologis pelajar. Program ini pun dirancang berkelanjutan dengan membentuk agen konselor sebaya di lingkungan sekolah.
Melalui program tersebut, sejumlah siswa nantinya akan mendapatkan pembekalan khusus agar mampu menjadi teman diskusi bagi rekan-rekan mereka yang menghadapi persoalan psikologis maupun tekanan selama menjalani pendidikan.
“Anak-anak biasanya lebih nyaman berbagi cerita dengan teman seusianya. Karena itu kami akan membekali para agen konselor sebaya agar bisa menjadi pendamping awal bagi teman-temannya,” jelas Susana.

Inisiatif tersebut mendapat apresiasi dari Kepala SMK Negeri 2 Bontang, Nurwahidah. Ia menilai materi kesehatan mental sangat relevan diberikan kepada peserta didik baru, mengingat latar belakang siswa yang beragam dan sebagian besar berasal dari keluarga menengah ke bawah.
Menurutnya, pendampingan semacam ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih peduli terhadap kondisi psikologis siswa sekaligus mendorong mereka berkembang secara optimal.
“Harapan kami program ini dapat terus berlanjut sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para siswa dan menghasilkan dampak positif bagi perkembangan mereka,” pungkasnya. (Adv)
Penulis: Bambang









