Menu

Mode Gelap

Daerah

Metanol Hingga Hilirisasi Sektor Pertanian, Wajah Ekonomi Baru Kabupaten Kutim Pasca Batu Bara

badge-check


					Alat berat pengangkut batu bara perusahaan yang melintasi jalan poros antara Sangatt-Bengalon di Kutim. (Foto: Dok. JP) Perbesar

Alat berat pengangkut batu bara perusahaan yang melintasi jalan poros antara Sangatt-Bengalon di Kutim. (Foto: Dok. JP)

Jurnalpijar.com – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Wahyunadi menyatakan keseriusan pemerintah daerah untuk mengurangi ketergantungan yang tinggi pada aktivitas pertambangan khususnya ekspor batu bara. Ia menyebutkan rencana transisi ekonomi berbasis hilirisasi industri ke arah produsen methanol. Kemudian peningkatan sektor perkebunan, pariwisata, pertanian dan perikanan.

“Salah satu misi pembangunan Kutim adalah mempercepat pembangunan melalui pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada hilirisasi serta penguatan sektor pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan dan pariwisata,” ujar Wakil Bupati Kutim Mahyunadi.

Ia mengatakan Pemkab Kutim telah menyiapkan lahan di Kecamatan Bengalon untuk proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol, bahan pembuat resin, campuran LPG, serat sintetis, cat, plastik, pelarut pembuatan obat, dan campuran parfum.

Perubahan arah kebijakan pemerintah pusat yang mengarahkan ke hilirisasi, membuat investasi daerah juga diarahkan ke hal yang sama, sehingga batu bara tidak melulu dipasarkan dalam bentuk mentah, tapi diolah menjadi produk turunan untuk mendukung transisi energi nasional.

Bagi daerah seperti Kutim yang masih bergantung pada tambang, ia mengatakan hilirisasi batu bara bukan hanya soal industri, tapi merupakan perubahan besar dalam usaha pengembangan ekonomi.

Hal itu, menurut dia, penting karena aktivitas industri turunan diperkirakan mampu menciptakan mata rantai ekonomi baru yang lebih panjang dibanding penjualan batu bara mentah, yakni selain mempercepat pertumbuhan ekonomi juga untuk mengurangi kemiskinan.

Sedangkan untuk hilirisasi pertanian dalam arti luas, komoditas pisang kepok misalnya, selain pisang segarnya sudah mampu menembus pasar ekspor, olahan keripik pisang yang diproduksi industri kecil dan menegah (IKM) setempat pun mampu menembus pasar global baik Asia maupun Eropa, lanjutnya.

Sementara itu, ia mengatakan, untuk komoditas kakao, berkat dorongan dan pembinaan yang terus dilakukan, tidak hanya dijual dalam bentuk biji kering tapi sudah ditingkatkan menjadi kakao fermentasi yang mampu meningkatkan nilai jual dan menyerap tenaga kerja baru.

Berkat pembinaan yang dilakukan, kini Kutim pun mendapat kontrak pengiriman kakao fermentasi ke PT Rasantara Cipta Pangan Bandung, Jawa Barat, sehingga secara rutin pengiriman setiap bulan antara 25-30 ton fermentasi kakao.

Biji kakao fermentasi tersebut berasal dari Kecamatan Karangan. Hal itu, ia mengatakan membuktikan bahwa hilirisasi komoditas perkebunan yang dilakukan memiliki potensi besar sebagai motor baru penggerak ekonomi kerakyatan.

“Hilirisasi harus terus dikejar agar perekonomian di Kutim tidak selalu bergantung pada komoditas mentah, baik di sektor pertambangan maupun pertanian dalam arti luas. Pariwisata pun terus digenjot karena menjadi salah satu ekonomi berkelanjutan dengan dampak sangat luas,” katanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hindari Tumpang Tindih, Program TJSL Kota Bontang Didorong Lebih Tearah dan Berkelanjutan

20 Agustus 2026 - 11:04

Penertiban SPBU Pemicu Kemacetan di Sulsel, Pertamina Jatuhkan Sanksi Tegas

20 Agustus 2026 - 06:45

Polres Bontang Ungkap 19 Kasus Tindak Pidana 3C dalam Tiga Bulan Terakhir

18 Agustus 2026 - 13:01

Trending di Daerah