SAMARINDA – Kalimantan Timur tercatat sebagai provinsi terdepan dalam penerapan sistem pembayaran digital di Pulau Kalimantan. Pencapaian ini disampaikan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, pada Jumat (31/10/2025) lalu di Samarinda.
Provinsi Kaltim berhasil mencatatkan 55 persen dari keseluruhan transaksi digital di Kalimantan, menempatkannya pada posisi puncak dalam pemanfaatan transaksi non-tunai. Capaian ini mencerminkan kemajuan pesat dalam pengembangan ekosistem ekonomi digital di tingkat lokal.

Akselerasi ini didorong oleh tingginya volume transaksi digital yang berlangsung di wilayah tersebut, dengan penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) memberikan kontribusi signifikan. Sinergi yang terjalin erat antara berbagai institusi turut mempercepat adopsi pembayaran non-tunai di seluruh Kaltim.
Lonjakan Nilai Transaksi QRIS Mencapai Rp5,92 Triliun
Hingga pertengahan 2025, nilai transaksi QRIS di Kalimantan Timur telah menyentuh angka Rp5,92 triliun. Angka fantastis ini menggambarkan peran vital Kaltim dalam ekosistem ekonomi digital kawasan Kalimantan dan memberikan dampak positif bagi percepatan transaksi di sektor ritel.
Budi Widihartanto menekankan dominasi Kaltim dalam pembayaran digital di Kalimantan. “Bisa dibayangkan, 45 persen sisanya itu baru tersebar di wilayah Kalimantan lainnya. Jadi kita ini termasuk yang paling tinggi untuk transaksi non-tunai,” jelasnya.
Tren pembayaran non-tunai di Kaltim menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dan mengesankan. “Pembayaran non-tunai terus kita kembangkan di Bumi Etam. Alhamdulillah, perkembangannya terus di atas 100 persen, bahkan sempat mencapai 300 persen,” ungkap Budi.
Kolaborasi Solid Memperkuat Ekosistem Digital
Kesuksesan Kalimantan Timur tidak terlepas dari kolaborasi yang solid antara berbagai stakeholder terkait. Budi Widihartanto memberikan apresiasi tinggi terhadap kerja sama antara Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta institusi perbankan dan pelaku sistem pembayaran di Kaltim yang terus memperkuat ekosistem transaksi digital.
Dampak positif dari sinergi ini terlihat nyata di lapangan, di mana baik pengguna maupun merchant telah terbiasa menggunakan QRIS dan Electronic Data Capture (EDC) dalam aktivitas transaksi harian. Kemudahan ini memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan pelaku usaha dalam melakukan pembayaran non-tunai.
“Alhamdulillah, kerja sama antara BI, OJK, dan teman-teman dari perbankan maupun pelaku sistem pembayaran sangat baik dan kompak,” tutupnya. (*)












