BONTANG – Pemerintah Kota Bontang mencatatkan pencapaian signifikan dalam mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Selama periode awal tahun, retribusi dari tiga destinasi wisata utama—Pelataran Bontang Kuala, Mangrove Edu Park Berbas, dan Pulau Beras Basah—berhasil menyumbang PAD hingga Rp276 juta atau sekira 168 persen dari target yang dipatok pemerintah sepanjang lima bulan pertama tahun 2026.
Penerimaan ini merupakan dampak positif dari kebijakan pemberlakuan tarif masuk resmi yang mulai diterapkan Pemkot Bontang pada awal Maret 2026. Tarif yang dikenakan bervariasi, yakni Rp2.000 untuk anak-anak, Rp5.000 bagi wisatawan dewasa domestik, dan Rp90.000 bagi turis mancanegara.
Mangrove Edupark dan kawasan wisata pesisir Bontang Kuala menjadi motor penggerak utama lonjakan pendapatan tersebut. Meskipun penarikan retribusi di kawasan Bontang Kuala sempat menuai protes dari warga, Pemkot Bontang segera merespons dengan mengubah skema penarikan agar lebih adil dan tidak membebani masyarakat setempat.
Langkah strategis ini sejalan dengan penyusunan Road Map PAD 2026-2029 yang digagas oleh Tim Percepatan Pembangunan Daerah bersama Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata. Target utamanya adalah mendorong kemandirian fiskal daerah dengan menggali potensi wisata secara maksimal.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Bontang Eko Mashudi menyatakan bahwa target awal tahun pertama hanya Rp163 juta, namun realisasinya sudah melampaui hingga sekitar 168 persen. Sebelumnya, sektor pariwisata belum memberikan kontribusi signifikan terhadap PAD karena belum ada mekanisme penarikan retribusi yang berjalan secara terstruktur.
Tahun ini merupakan awal maksimalisasi sektor pariwisata, yang diibaratkan sebagai membuka keran baru bagi pendapatan daerah. Kawasan Wisata pesisir Bontang Kuala disebut sebagai destinasi yang berpotensi penyumbang terbesar dalam PAD pariwisata.
PAD juga bersumber dari Kampung Terapung Malahing, Edupark Mangrove Berbas Pantai, kawasan Tihi-Tihi yang memiliki fasilitas guest house, hingga pemanfaatan sarana dan prasarana olahraga milik pemerintah. Hingga saat ini, wisata Bontang Kuala masih menjadi penyumbang pajak paling besar, meskipun destinasi lain juga memberikan kontribusi. (*)









