Jurnalpijar.com – Kasus dugaan keracunan makanan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bontang, Kalimantan Timur, terus berkembang dengan jumlah korban yang meningkat signifikan. Dari awalnya 12 orang, kini sudah 31 penerima manfaat melaporkan gejala mual, muntah, dan diare yang berasal dari empat satuan pendidikan berbeda.
Merespons situasi tersebut, Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Utara 2 di Kelurahan Api-Api menghentikan operasionalnya secara total sejak Jumat (7/8/2026). Kepala SPPG Bontang Utara 2, Muhammad Rezky, mengatakan penghentian dilakukan berdasarkan instruksi pimpinan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan dan Labkesda Bontang.
“Kami belum tahu sampai kapan operasional dihentikan. Saat ini kami masih menunggu instruksi lanjutan dan hasil pemeriksaan sampel,” ujar Rezky.
Penghentian operasional berdampak luas pada distribusi makanan bergizi untuk 2.487 penerima manfaat, termasuk penyaluran makanan tambahan untuk posyandu yang kini terhenti total.
Sebanyak 44 orang relawan dapur, mulai dari juru masak, tim persiapan, pemorsi, pencuci ompreng, hingga pengemudi, terpaksa dirumahkan tanpa penghasilan karena berstatus pekerja harian lepas. Rezky menjelaskan bahwa relawan dipersilakan mencari pekerjaan lain sementara karena tidak terikat kontrak.
Berdasarkan pendataan SPPG Bontang Utara 2, 31 korban terdampak berasal dari beberapa institusi pendidikan. SDN 012 Bontang Selatan mencatat 18 orang korban terdiri dari 11 murid dan 7 guru. PAUD Al-Hikmah melaporkan 5 murid, SMP Negeri 1 Bontang 7 orang yang terdiri dari 6 murid dan 1 guru, serta SD Muhammadiyah 1 murid.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan pemerintah daerah bersama Badan Gizi Nasional bergerak cepat menurunkan tim surveilans Dinkes dan Labkesda untuk mengusut penyebab pasti kejadian.
“Tim langsung melakukan penanganan medis serta investigasi sampel makanan. Neni menekankan pengawasan dan evaluasi program MBG terus diperketat,” ungkap Neni. (*)









