BONTANG – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bontang mengadakan program pendidikan penyetaraan paket bagi warga binaannya. Melalui program pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C, puluhan narapidana difasilitasi untuk tetap mendapatkan akses belajar meski tengah menjalani masa pidana.
Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimaswat) Lapas Kelas IIA Bontang, Sarifuddin, menjelaskan bahwa program ini menjadi bagian dari pembinaan yang tidak hanya berfokus pada aspek kedisiplinan, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia warga binaan.
“Yang kami inginkan, kegiatan belajar mengajar ini bisa menjadi bekal bagi warga binaan, termasuk dalam melatih keterampilan dan pengetahuan mereka ke depan,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Meski demikian, Sarifuddin mengakui masih terdapat sejumlah keterbatasan, terutama dari sisi fasilitas. Ruang belajar yang tersedia belum mampu menampung seluruh warga binaan yang ingin mengikuti program pendidikan tersebut.
“Kendala kita ada di tempat. Jadi belum semua warga binaan bisa terakomodir, karena kapasitas ruang terbatas,” ungkapnya.
Adapun jumlah peserta program pendidikan kesetaraan di Lapas Bontang mencapai 71 orang, dengan rincian Paket A sebanyak 22 orang, Paket B 21 orang, dan Paket C 28 orang. Mayoritas peserta merupakan warga binaan dengan usia produktif, yakni di atas 21 tahun.
Sarifuddin nilang, program ini terbuka bagi seluruh warga binaan tanpa membedakan status lama atau baru. Pihak Lapas akan melakukan pendataan terkait riwayat pendidikan masing-masing peserta sebagai dasar penempatan dalam program yang sesuai.
“Semua bisa ikut, tidak ada pengecualian. Nanti kita data latar belakang pendidikannya, termasuk kalau ada yang kehilangan ijazah atau dokumen, itu juga kita bantu telusuri,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, Lapas juga menjalin koordinasi dengan pihak terkait, termasuk lembaga pendidikan nonformal dan Dinas Pendidikan, guna memastikan kelancaran program serta validitas data peserta.
Menariknya, program pendidikan ini diberikan secara gratis sebagai bagian dari program pembinaan Lapas. Harapannya, warga binaan yang telah bebas nantinya dapat melanjutkan pendidikan atau memanfaatkan ilmu yang diperoleh untuk kehidupan yang lebih baik.
“Memang ada yang belum sempat menyelesaikan karena sudah bebas duluan. Tapi biasanya tetap kami arahkan agar bisa melanjutkan di luar,” tutupnya.
Dengan adanya program ini, Lapas Bontang menunjukkan bahwa proses pembinaan tidak hanya berhenti pada hukuman, tetapi juga membuka peluang perubahan melalui pendidikan yang berkelanjutan. (*)
Penulis : Mirah Hayati









