Jurnalpijar.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang akan memperketat pengawasan terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setelah munculnya dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 5 Agustus 2026 lalu.
Berdasarkan hasil investigasi Dinas Kesehatan Bontang, sebanyak 27 orang dilaporkan mengalami sakit setelah mengonsumsi makanan MBG dari SPPG Bontang Utara Api-Api. Jumlah tersebut terdiri dari 14 siswa, 11 guru, dan dua wali murid dari total sekitar 2.036 penerima manfaat.
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris menyatakan kejadian tersebut menjadi peringatan bagi pemerintah maupun pengelola SPPG untuk memperketat tata kelola penyediaan makanan bagi penerima manfaat. Meskipun Pemkot Bontang melalui Dinas Kesehatan telah melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap SPPG, insiden ini menunjukkan perlunya pengawasan yang lebih ketat.
“Dengan kejadian ini tentu menjadi peringatan keras bagi kita terhadap tata kelola SPPG. Karena yang dilayani adalah masyarakat kita, khususnya anak-anak,” ujar Agus Haris dalam konferensi pers didampingi Sekretaris Daerah Kota Bontang Akhmad Suharto dan Kadinkes Bontang, dr. Toetoek Pribadi pada Senin (10/8/2026).
Untuk merespon persoalan ini, Pemkot Bontang akan memanggil seluruh kepala SPPG dan sekolah yang masuk dalam sasaran program MBG dalam rapat koordinasi dan evaluasi. Agenda ini dijadwalkan berlangsung pada Selasa (11/8/2026) pukul 08.00 Wita dan akan dipimpin langsung oleh Wawali Bontang Agus Haris.
Disebutkan, pengawasan dalam pelaksanaan MBG sepatutnya tidak hanya melibatkan pemerintah semata. Pihak sekolah diminta juga ikut dalam monitoring berkala dan ikut memastikan pelaksanaan MBG berjalan baik. “Sebaiknya ikut melakukan pengawasan, karena kan sebagai penerima manfaat. Tapi nanti di rapat evaluasi akan dibahas teknisnya,” ungkap Agus Haris.
Kepala Dinas Kesehatan Bontang dr. Toetoek Pribadi menjelaskan laporan kejadian diterima pada 5 Agustus 2026 dari Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Bontang. Investigasi dan penyelidikan epidemiologi dilakukan pada 6 Agustus. Hasil pemantauan hingga 7 Agustus 2026 menunjukkan seluruh kasus dalam kondisi pulih atau stabil tanpa penambahan kasus baru.
Sementara hasil uji laboratorium kesehatan mengungkapkan terdapat kontaminasi bakteri patogen pada menu MBG yang dikonsumsi siswa, guru, dan wali murid pada kasus 5 Agustus tersebut. Temuan itu berasal dari sampel ayam serundeng dan gulai sayur yang disajikan SPPG Bontang Utara 2. Sebanyak 27 orang dilaporkan mengalami mual dan muntah setelah menyantap menu MBG tersebut.
“Titik pencemaran atau kontaminasinya masih kami dalami karena membutuhkan waktu dalam uji lab. Namun ada beberapa kemungkinan seperti bisa terjadi saat proses penyajian makanan ke dalam wadah, pendinginan makanan yang menggunakan alat bantu seperti menggunakan kipas angin,” sebut dr. Toetoek Pribadi. (*)
Penulis: Bambang









